KISMI

KISMI adalah Kisah Inspiratif Mei. Berkisah kembalinya seseorang ke jalan yang benar karena kondisi yang kurang mendukung. Sederhana, khas kejadian hidup sehari-hari, dan tentu saja sangat inspiratif. Itulah KISMI dengan judul SADAR. Selamat membaca dan meraih inspirasi!

Jumat, 04 Mei 2012

114 SADAR

SADAR


“Mam, kita harus berhemat. Kalau memang sesuatu itu tidak terlalu diperlukan oleh kita, sebaiknya tidak usah dibeli,” ucap Papa pada Mama via telepon. Mama sedang berada di mal terbesar di kota kita. Mama menikmati “me time”-nya, sebuah waktu di mana Mama merasakan kesenangan pribadi yang luar biasa, yaitu saat berbelanja. Karena terlalu senangnya, Mama seringkali terlena. Akibatnya, banyak sekali barang yang kurang penting pun tetap dibeli Mama.

“Pap, kenapa sih nggak senang melihat Mama senang?” balas Mama. Papa yang masih berada di kantor geleng-geleng kepala mendapatkan jawaban seperti itu.
“Mam, ingatlah. Tidak selamanya kita bisa berjaya. Papa ini pengusaha. Dan pengusaha itu tidak selalu untung, Mam. Bisa saja suatu saat merugi. Papa hanya ingin kita hidup sewajarnya saja, sederhana, namun juga tidak kekurangan, di setiap saat, yaitu saat kita berjaya maupun saat kita merugi,” urai Papa. Mama tidak menggubris kata-kata Papa. Mama terus melanjutkan kegemarannya berbelanja. Sampai semua uang bersisa tak begitu banyak.

Di saat bulan berganti, bisnis Papa anjlok. Perusahaan Papa merugi banyak sekali. Bahkan Papa harus menunggak sejumlah hutang di beberapa Bank. Sampai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-haripun Papa begitu terseok-seok.

Mama jadi kesal bukan main. Irama hidupnya jadi sangat terganggu. Mama yang terbiasa hidup nyaman bahkan berlebihan, kali ini harus menghadapi kenyataan yang berlawanan.
Bulan demi bulan berlalu. Kondisi keuangan Papa tak kunjung kembali seperti dulu. Namun, syukurnya sudah ada peningkatan walau relatif kecil. Papa terus berusaha meningkatkan pendapatan Perusahaan semaksimal mungkin. Kenyataan bicara lain. Di luar, banyak sekali pesaing-pesaing baru yang ternyata lebih lihai.

Papa hanya tersenyum menghadapi kenyataan ini. Apalagi Papa melihat sebuah perubahan yang sangat bagus pada Mama dan perilakunya. Mama sekarang menjadi terbiasa hidup sederhana. Perilaku belanja berlebihan alias borosnya sudah hilang. Papa bahagia menghadapi kenyataan ini. Usaha Papa untuk membuat Mama sadar telah berhasil walau harus melalui tahap yang cukup dramatis yaitu anjloknya usaha Papa. Tapi ternyata, Papa tidak terlalu risau. Apalah arti kesuksesan bila hal itu membuat Mama tidak terkendali perilakunya.

Sebenarnya Papa ingin sukses dalam usaha dan memiliki Mama yang sederhana. Namun jika hal itu hampir mustahil, maka Papa pun memilih yang seperti ini, usaha yang sedang-sedang saja tapi memiliki Mama yang mampu hidup dalam batas-batas kesederhanaan.


Semarang, 20120309

Cara menyadarkan orang untuk kembali ke jalan yang benar sungguh bermacam-macam.

Senin, 02 April 2012

113 ANGSURAN

ANGSURAN


Seorang lelaki berpakaian rapi mendatangi bengkel sepeda motor “CANGGIH” milik Ripo. Ripo sendiri bersama tiga orang karyawannya tengah sibuk bekerja. Saat itu pukul sebelas siang, hari Senin.

“Permisi, pak Ripo,” sapa lelaki berpakaian rapi tersebut.

Ripo menghentikan pekerjaannya sejenak dan menoleh ke asal suara “permisi” itu. Ripo melempar senyum.

“Oh, pak Andru,” balas Ripo. “Sebentar ya. Silahkan masuk dan duduk dulu. Saya akan membereskan satu motor ini. Ya sekitar lima menit lagi akan selesai,” tambah Ripo.

Ripo melanjutkan memperbaiki mesin sepeda motor pelanggan. Dia dibantu seorang pegawainya. Beberapa menit kemudian pekerjaan selesai. Ripo menemui tamunya di ruang tunggu.

“Bagaimana, pak Andru?” tanya Ripo.

“Kami datang kemari untuk menanyakan angsuran kredit pak Ripo yang sampai hari ini belum dibayar. Sudah terlambat seminggu. Apakah pak Ripo ada masalah dalam bisnis bengkel ini?” tanya balik Andru.

Ripo tersenyum mendengar pertanyaan Andru. Memang, Ripo meminjam uang di tempat Andru bekerja, yaitu sebuah bank. Ripo meminjam modal kerja sebesar lima puluh juta rupiah. Sementara masa pinjamannya adalah tiga tahun. Setiap bulan Ripo wajib membayar angsuran sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah. Selama setahun angsuran tersebut lancar. Namun menginjak tahun kedua, Ripo tak kunjung membayar angsuran pinjamannya yang ketiga belas. Bahkan sudah terlambat seminggu. Biasanya Ripo membayar angsuran tersebut selambatnya dua hari sebelum jatuh tempo.

“Bagaimana, pak Ripo?” tanya Andru kembali karena Ripo tak kunjung memberi jawaban.

“Pak Andru, selama setahun saya lancar membayar angsuran. Baru bulan ini saya terlambat. Betul, kan?” jelas Ripo diakhiri dengan pertanyaan.

“Betul, pak Ripo. Ada apa?”

“Sebenarnya bukan karena saya tidak mempunyai uang. Bukan. Bahkan usaha saya makin maju. Pendapatan bengkel ini makin meningkat,” terang Ripo.

“Terus mengapa angsuran bulan ini belum dibayar?”

“Karena satu hal.”

“Apa itu?”

“Kurang perhatian.”

“Maksudnya?”

“Pak Andru dan bank di mana pak Andru bekerja pasti akan mendatangi para debitur yang menunggak. Tapi pernahkah pak Andru mendatangi debitur yang lancar membayar angsuran? Mungkin hanya sekedar bertegur sapa atau mengucapkan terima kasih?” tanya Ripo dengan mimik wajah serius.

“Sengaja saya menunggak angsuran bulan ini dan tak mau menerima telepon dari bank agar pak Andru datang ke bengkel ini. Saya ingin bank lebih perhatian pada para debiturnya yang baik, bukan hanya yang kurang baik,” imbuh Ripo.

Ripo bangkit dari duduknya, menuju meja dan membuka laci. Diambilnya sebuah amplop berisi uang sebanyak satu juta lima ratus sepuluh ribu rupiah dan diberikan pada Andru.

“Ini uang angsuran saya ditambah denda keterlambatan sepuluh ribu rupiah,” kata Ripo pada Andru.

Andru sedikit tercekat mendengar penjelasan panjang lebar Ripo. Namun diterimanya juga uang itu.

“Pak Ripo, saya atas nama bank tempat kerja saya mengucapkan terima kasih atas pembayaran angsuran ini. Saya akan membuatkan tanda terima. Saya juga atas nama bank mengucapkan mohon maaf jika ternyata selama ini kami kurang peduli terhadap pak Ripo yang telah disiplin membayar angsuran. Kami akan memperbaiki diri. Kami ucapkan terima kasih atas masukan dari pak Ripo. Semoga jalinan kerja sama kita makin erat dan meningkat,” ucap Andru.

Setelah membuat tanda terima angsuran dan diberikan pada Ripo, Andru pun mohon diri. Dia berlalu dengan sebuah penyegaran diri. Dia yang datang menagih hutang, ternyata terungkap bahwa dia dan kantornya telah mempunyai “hutang” juga yaitu sebuah perhatian untuk nasabah yang baik.


Semarang, 20120326

Semua pihak itu perlu mendapatkan perhatian. Berilah perhatian dan ucapan terima kasih pada pihak yang telah berbuat baik. Jangan hanya memberi perhatian pada pihak yang kurang baik saja.

Jumat, 09 Maret 2012

112 GONTAI

GONTAI


Dini hari gontai langkahnya menyusuri jalan utama di kota. Lampu dan angin menemaninya. Sesekali mobil dan sepeda motor melintasinya. Dia meneruskan gontai langkahnya.
Gontai langkahnya, gontai pula hatinya. Perpisahan sedang melanda antara dia dan pasangannya. Mereka sering bertikai kata karena ketidak-selarasan yang terjadi. Sebenarnya hanya hal-hal kecil, bisa menggunung sampai membuat mereka menjauh satu sama lain.
Gontai terus bergelayut. Penyesalan yang datang kemudian seolah seperti tiada guna. Di dalam gontai, dia berjanji ingin memperindah semua. Dia juga berjanji akan mengeluarkan segenap kemampuannya bertoleransi serta menerima pasangan apa adanya. Dia siapkan semuanya asalkan dia bisa bersatu kembali dengan seseorang yang dicintainya tapi berada entah di mana.
Gontai seolah tak mau lepas membalut langkahnya, sampai sebuah mobil hitam berjalan pelan menyejajarinya. Dia terusik. Pandangannya beralih. Kaca mobil terbuka. Senyum si pengendara mengembang. Dia menghentikan langkahnya. Mobil berhenti, pengendara pun keluar.
Mereka berpelukan. Angin terus berhembus. Lampu jalan tetap menyala. Tanpa kata, tiada suara, mereka berdua melangkah bersama.
Langkahnya tak gontai lagi. Dia tak sendiri. Belahan jiwanya telah ada di sisi. Mereka terpisah sejenak karena memuncaknya pertengkaran di antara mereka. Perbedaan pikiran, tak samanya pendapat, telah memisahkan mereka. Namun semua telah berlalu. Mereka telah menyatu. Kebesaran jiwa telah merasuk ke dalam diri mereka. Akhirnya, mereka menyadari, dua orang tak mungkin sama persis dalam segala hal. Perbedaan pasti ada. Hanya penyesuaianlah yang mesti disikapi dalam penyelarasan kebersamaan itu.
Mereka terus melangkah, namun tiada gontai sama sekali. Dan langkah-langkah indah mereka harmoni menuju fajar baru yang siap hadir di ufuk Timur.


Semarang, 20120305

Tiap pasangan pasti memiliki perbedaan. Terimalah itu. Jangan sampai perbedaan yang ada sampai membuat kita terpisah dari pasangan yang kita cintai.

Kamis, 02 Februari 2012

111 MENJAUHIMU

MENJAUHIMU



Kupandangi dirimu. Kau pun membalas pandanganku. Kita berdua sepertinya paham akan hati kita masing-masing. Hatiku bukan milikku lagi. Hatimu juga bukan untukku lagi. Kita berdua dekat di mata, jauh di hati.

Setahun sudah aku mencoba bertahan bersamamu sejak kutahu ternyata kau tak mencintaiku lagi. Ku berusaha melakukan segala hal untuk menumbuhkan benih-benih cinta di hatimu untukku. Setahun aku tiada lelah berupaya, setahun aku mengerahkan segenap kemampuanku.
Namun akhirnya kusadari. Kau memang tak mau lagi menerimaku dalam hidupmu. Hanya saja, kau pun tak mempunyai cukup keberanian untuk meninggalkanku atau menyuruhku pergi. Kau hebat dalam mencampakkan hatiku, tapi kau lemah dalam berkeputusan mengenai kita berdua.

Kupandangi dirimu dan kau pun balas memandangiku.

"Aku akan pergi. Aku tak bisa terus bersamamu tanpa cintamu," ucapku.

Kau masih diam. Namun kutahu, jauh di dalam lubuk hatimu kau merasa senang bahkan bahagia.

Inilah saat yang kau nanti selama setahun ini, bukan?

Aku melangkah pergi, menjauhimu. Hatiku retak tapi tidak hancur. Aku hanya bersikukuh untuk memiliki bangunan cinta di masa depan, dan jelas, itu bukan denganmu lagi.



Semarang, 20111118

Tinggalkanlah orang yang sudah tak mencintai kita lagi. Kita harus hidup bersama orang yang kita cintai dan mencintai kita. Dengan cinta, hidup kita selalu bahagia.

Sabtu, 31 Desember 2011

110 IBADAH

IBADAH



“La, berhenti yuk. Capek nih. Lagi pula Pengawas kita sedang tidak masuk kerja hari ini. Jadi, dia tidak tahu apakah kita kerja atau tidak,” sungut Uyi pada Ala, rekan kerjanya.

Ala tak langsung menyahut. Dia asyik melanjutkan pekerjaannya. Uyi pun bingung.

“Kamu kok rajin amat sih, La. Kerja terus walau tidak diawasi Pengawas kita. Ada apa denganmu sih, La?” lanjut Uyi.

Ala tersenyum kecil. Setelah selesai dengan pekerjaannya, dia melanjutkan pekerjaan keduanya. Ala dan Uyi merupakan dua sahabat di dalam lingkungan pabrik konveksi. Mereka bekerja di bagian pembungkusan. Mereka bertugas membungkus kaos yang sudah jadi ke dalam kantong plastik. Setelah rapi terbungkus plastik, kaos-kaos tersebut dimasukkan ke dalam kardus.

Ala memasukkan kaos-kaos yang sudah terbungkus plastik itu ke dalam kardus. Selanjutnya dia menutup kardus tersebut dengan lakban. Kardus-kardus tersebut ditempeli tulisan sesuai dengan tipe kaos dan ukurannya. Selanjutnya diserahkan kepada bagian pengiriman.

Uyi masih terheran-heran dengan sikap Ala yang demikian rajinnya dalam bekerja.

“Sudahlah, La. Berhenti yuk. Target pembungkusan kita sudah tercapai untuk hari ini,” ucap Uyi membujuk Ala untuk berhenti bekerja.

Karena tak mempan dengan kata-kata, akhirnya Uyi gemas. Dia memegang tangan Ala sehingga Ala terhenti bekerja. Mata mereka berpandangan. Ala menyingkirkan tangan Uyi, kemudian melanjutkan kerja kembali.

“La…” kata Uyi namun terhenti saat dia melihat Ala menggeleng-gelengkan kepala pertanda tidak mau lagi mendengar omongan Uyi.

Bahkan, akhirnya Ala pun mengeluarkan isi hatinya pada Uyi.

“Yi, bagiku bekerja itu ibadah. Dan yang namanya ibadah itu tidak peduli apakah Pengawas kita memperhatikan kita atau tidak. Ibadah itu disaksikan oleh Tuhan. Dan Tuhan itu Maha Adil, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Percayalah Yi, jika kita sudah menempatkan pekerjaan kita sebagai sebuah ibadah, kita akan selalu rajin mengerjakannya, tanpa pamrih apapun.”



Kendal, 20111108

Bekerja itu ibadah. Dan ibadah itu selalu mendapatkan balasan yang baik dari Yang Maha Kuasa.

Jumat, 02 Desember 2011

109 MIRIP

MIRIP



Aku bingung sekaligus cemas. Kenapa hal ini bisa terjadi? Kenapa dia harus menjadi tetangga baruku? Dan anak kecil itu? Kenapa sangat mirip denganku?

Terlintas peristiwa lima tahun silam. Saat itu aku adalah seorang lelaki yang pernah lepas kendali. Aku mencari kenikmatan dari seorang primadona tempat terlarang. Namanya Viry. Wajahnya sungguh menggoda, badannya membuatku tergila-gila. Malam itu betul-betul malam yang sangat nikmat untukku.

Namun, aku bukanlah orang yang berhati kelam. Aku menyesal telah melakukan perbuatan itu. Aku sadar. Aku tidak mau mengulanginya. Kuputuskan untuk pindah ke luar kota dan memulai hidup baru. Kutinggalkan semuanya.

Di tempat yang baru kujalin cinta sampai aku berhasil menikah dengan seorang wanita yang sungguh cantik jiwa dan raganya. Keluarganya pun cukup terpandang. Aku sungguh mensyukuri semuanya sampai datanglah tetangga baruku itu dengan bocah lelaki yang wajahnya mirip denganku. Hatiku menjadi gundah. Untunglah Viry sudah tak mengenaliku lagi. Mungkin begitu banyak lelaki yang pernah menikmati dirinya.

Dengan berbagai siasat aku berhasil melakukan tes DNA. Dan hasilnya ternyata tidak cocok. Bocah lelaki itu bukan darah dagingku. Aku sedikit tenang tapi belum lega benar.

Aku pun mengatur langkah agar perilaku burukku di masa lalu tak akan pernah terungkap, apalagi sampai diketahui istriku dan keluarganya. Bisa hancur hidupku.

Aku memutuskan untuk pindah ke luar kota dengan alasan mencari pekerjaan yang lebih baik. Istriku menurut saja saat kuajak pindah. Aku ingin menyelamatkan diriku dan pernikahanku. Aku tidak mau masa laluku menghancurkan masa depanku. Tindakan penting ini harus kulakukan sebelum Viry teringat akan sosokku.



Surabaya, 20101108

Lakukanlah tindakan penting untuk menyelamatkan masa depanmu!

Sabtu, 05 November 2011

108 HUJAN

HUJAN



Hujan mengguyur seantero kota. Semua basah, tiada kering tersisa. Aku sungguh jengkel bila hujan datang, apalagi di pagi hari jelang ku berangkat ke kampus. Walau sudah menggunakan payung, tetap saja aku tidak bisa terbebas dari basah. Mana rumahku jauh dari halte bis pula. Aku jadi tambah jengkel.

Tapi aku heran dengan Vigi. Tetangga sekaligus teman kuliahku itu santai saja menanggapi hujan. Dia menghadapi hal yang sama denganku, seperti rumah yang jauh dari halte bis dan menggunakan payung di kala hujan kalau harus pergi ke kampus.

Aku mengirim SMS pada Vigi.

“Bolos kuliah yuk. Hujan nih. Males harus berbasah-basah.”

Tak berapa lama, SMS balasan datang.

“Kenapa harus bolos kuliah? Kita kan bisa pakai payung. Kalaupun masih basah sedikit-sedikit, tidak apa-apalah. Toh air hujan itu masih bersih juga. Coba kamu bayangkan seandainya air hujan itu kotor seperti limbah pabrik, bisa sangat mengganggu kan? Jalani dan syukuri yang ada. Tidak perlu dikeluh-kesahkan. Yuk berangkat kuliah!”

Aku tersenyum setelah membaca SMS Vigi. Segera kusiap berangkat ke kampus, tak peduli hujan yang tengah mengguyur kota. Tak lupa kupakai payung andalanku.



Surabaya, 20101117

Tak perlu mengeluh menghadapi kesusahan yang ada. Jalani hidup dengan penuh rasa syukur.